Pilihan
Source: Pinterest
by: Faradina MunandarWajahnya membiru. Betul dugaanku, dia memang lebih milih untuk menyerah, daripada berusaha mengembalikan hidupnya yang dulu.
Aku ada disini, di kamar ini beberapa belas tahun yang lalu. Suasananya masih hangat, berasal dari sepasang suami istri yang penuh kasih mengajari anak perempuannya berjalan. Perempuan kecil itu tidak berhenti memandangiku. Dia tertawa, menangis, dan aku selalu disitu memperhatikannya.
Aku selalu disitu, ketika ibunya membacakan cerita pengantar tidur, ketika gadis itu belajar berhitung, bahkan ketika dia terbangun di malam hari dari mimpi buruknya. Lalu sepasang suami istri itu masuk, menenangkannya, mengatakan semuanya akan baik-baik saja, lalu menyanyikan lagu tidur hingga anak itu terlelap.
Seiring waktu semuanya berubah. Tempat tidur itu diganti dengan yang lebih panjang. Boneka diganti dengan buku cerita. Hampir semuanya digantikan, namun aku disini, semakin menua dan tidak menarik.
Berbeda dengan gadis itu yang semakin hari semakin menarik. Parasnya rupawan, rambutnya hitam tergerai di punggungnya. Gadis itu semakin duduk di hadapanku, bersolek, atau sekedar mengagumi pantulan di wajahnya. Wajahnya bersinar ketika mendapat panggilan dari ponselnya, bahkan pipinya merona ketika berbicara dengan entah siapa di seberang ponselnya.
Entah kenapa, sekarang semuanya semakin berubah. Dia memangkas rambutnya yang indah itu. Beberapa malam, aku melihat tempat tidur itu kosong. Di malam yang lain, aku mendengar suara amarah gadis itu, disusul ibunya, lalu diakhiri dengan langkah gadis itu ke ruangan ini, membanting pintu dan menguncinya, lalu melempar barang-barang ke segala arah.
Gadis yang mempesona itu hilang. Tubuhnya menciut, tatapannya kosong, dan hitam yang selalu dia tambahkan menjadi tambah hitam. Rona diwajahnya hilang. Dia tampak seperti mayat hidup. Aku jarang berjumpa dengannya. Di malam-malam ketika tempat tidur itu kosong, seringkali aku menemukan ibunya menangis, dan berakhir terlelap di tempat tidur gadis itu.
Dan beberapa jam yang lalu dia ada disini, di hadapanku. Aku tidak mendengar amarahnya, atau ibunya, tapi dia mengunci pintu itu dengan rapat. Dia duduk di hadapanku, mencari jiwanya yang hilang entah kemana. Akhirnya dia menyerah. Dia meraih pisau lipat perak itu, dan menodaiku dengan noda merah itu. Lalu, sama seperti hari pertamaku disini, di ruangan ini, dia tidak berhenti memandangiku. Tubuhnya semakin pucat, dan kelopak matanya terpejam. Hari itu hari terakhir aku melihatnya, hari terakhir dia melihat pantulannya.
Tentu saja, aku hanya benda mati. Aku tidak merasa, bahkan ketika api ini menggerogotiku dan beberapa barang kesayangan gadis itu. Aku tidak pernah mengerti manusia-manusia itu. Bagaimana mereka rela menukar kebahagiaan dengan sesuatu yang merusak mereka? Mereka punya pilihan bukan? Tidak seperti aku yang tidak bisa melakukan apa apa ketika dilempar ke api ini. Tidak seperti aku yang tidak bisa lari dari apa yang menghancurkanku. Aku hancur, aku rusak.....


Wooh... mencekam dan serem.
ReplyDeleteBagus tapinya :p
- si Anon :)
makasih si anon :)
ReplyDeleteTapi pasti copas dari internet. Gw udah pernah baca soalnya - si Anon
ReplyDeleteGa copas kok, kalo copas pasti gw cantumin sourcenya :) Boleh dishare linknya yang pernah lo baca itu
ReplyDeleteEh itu anonnya bukan anon gue ya.... gue si anon yg pertama kali komen....
ReplyDeletegak kreatif tuh dia pake nama "si anon" juga.
Ganti id deh.... jadi: "si-apa".
Ok, Din?
Okay Si-Apa :D
DeleteI'm so sorry baru balas komennya