Secangkir Kopi dan Sebuah Cerita.
Pagi ini, orang-orang mulai berlalu lalang di jalanan. Terlihat di ujung jalan,sebuah kedai kopi baru dibuka, dan beberapa orang mulai mengantri untuk memesan kopi yang akan menemani mereka dalam beraktivitas pagi ini.
Disudut ruangan, terlihat seorang lelaki muda duduk berhadapan dengan seorang perempuan. Orang-orang mungkin mengira mereka sepasang kekasih yang sedang bertukar cerita, namun tidak. Belum. Wajar saja orang-orang mungkin berpikiran seperti itu, karena tatapan sang lelaki yang penuh kekaguman itu tidak mungkin bisa membohongi perasaannya.
Sekali lagi, ia aduk kopinya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah mungil itu.
Perempuan di depannya masih berkicau, asyik sendiri. Matanya menari-nari seiring pikirannya keluar bersama kata-kata dari mulutnya. Dari sekian keindahan yang lelaki itu liat, satu hal yang membuatnya sangat terpukau.
Ide-idenya.
Ide-idenya.
"Iya ngga sih? Ya walaupun aku ga terlalu suka dan ga terlalu bisa matematika, aku ga pernah benar-benar membenci itu. Kadang aku bertanya-tanya, matematika itu mereka ciptakan atau mereka temukan ya? Karena jujur, keren sekali bagaimana angka-angka itu kini menjadi bahasa dunia yang paling dasar, yang tidak perlu dihafal, hanya perlu dipahami..."
Menurut lelaki itu, orang yang terlihat manis, anggun di depannya ini, diam-diam berbahaya, namun mengesankan dan membuat penasaran. Pemikirannya indah, namun jenius. Tak ingin ia memalingkan wajahnya sedetik pun, takut terlewat olehnya cerita-cerita itu.
Rambut perempuan itu tergerai sebahu, agak berantakan. Mulutnya mungkin terlalu kecil untuk wajah mungilnya itu. Matanya berbinar-binar penuh ide, penuh kepercayaan.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun selama hidupnya, ia merasa jatuh cinta. Bukan, bukan jatuh cinta karna parasnya. Bukan juga jatuh cinta karna kepintarannya.
Untuk pertama kalinya, ia jatuh cinta pada pikiran seseorang.
Pikiran itu membawa aura perempuan itu menjadi lebih indah, menurutnya. Ketulusan, kebaikan, dan keramahan itu hadir dari ide-ide nya, karna perempuan itu tau, dibalik suatu hal, pasti ada suatu alasan, entah itu baik atau buruk, penting atau tidak.
Perempuan itu selesai bercerita. Ia meneguk kopi dari cangkirnya.
"Ayo dong, giliranmu.Sekarang apa ceritamu?"
Laki-laki itu tersenyum.
Aku bersyukur karna aku sedang jatuh cinta
Bukan, bukan dengan apa yang aku lihat
Tapi dengan apa yang aku rasa
Dan menurutku,
Inilah cara terindah untuk jatuh cinta.
-F (7 Juni 2015)


Comments
Post a Comment