"Aku cuma mau kamu"

"dan aku mencintaimu."

Selama sepersekian detik, setiap sel yang menyusun tubuhku tertawa.
Mata terpingkal-pingkal.
Oh tidak, kata-kata itu lagi, ujar mereka.
Lalu otot mencibir.
Masih bisa kau bilang begitu? Dan kau masih berulang kali mengulanginya?
Jantung memompa darahnya lebih cepat.
Kamu bilang kamu mau dia, tapi kamu masih haus mendamba orang lain.
Telinga terkejut.
Bagaimana kamu bisa bilang cinta, kalau untuk menjaga perasaannya pun kamu tak bisa?
Mulut terbahak.
Sebenarnya maumu apasih?
Otak tersenyum mengejek.
Ayolah, kita sudahi omong kosong ini. Dia lebih berhak bersama orang yang melihatnya seorang. Bukan pendama. Bukan seseorang yang berlagak sudah menemukan, nyatanya masih mencuri-curi untuk mencari, atau masih mencari sesuatu yang dulu belum sempat kamu dapatkan.

Oh, tidak, tidak semuanya.

Perasaan termenung, bimbang.
Bukan, bukan hati. Hati bukan tempatnya perasaan, tapi sudah menjadi stereotype bahwa hati adalah tempat perasaan, jadi baiklah.
Akan ku sebut perasaan sebagai hati di sini.

Semuanya gelisah.
Jangan.. jangan lagi hati. Tolong. Kamu menyakiti dirimu sendiri, lihat. Otak berempati.
Bukan. Bukan. Memang diantara kalian, aku yang paling tersakiti, dan maaf apabila sakit ini berdampak pada kalian. 
Tapi bukan begini caranya. 
Rasa itu bukan sesuatu yang dapat aku hilangkan begitu saja.
Maaf, aku masih yakin dia hanya butuh waktu.

Waktu? Otak menahan amarah.
Sebut olehmu, berapa kali kita, kamu, hati, tersakiti? Berapa kali tubuh kita ini disakiti oleh orang yang bahkan tidak menganggap kamu seberharga itu seperti kamu menganggapnya begitu? Bukan, ini bukan tentang kita semua, ini tentangmu. Cukup. Cukup sampai disini.

Belum. Belum berhenti sampai disini. Aku mohon. Biarkan dia mencoba. Akan lebih sakit, kalau ternyata dia akan berubah, tapi kita tergesa memalingkan wajah.

Semua menunggu komando dari otak. Gelisah. Gerah mereka dengan tingkah si 'kamu', tapi mereka adalah satu. Tidak mungkin meninggalkan hati di belakang.

Otak menghela nafas. Baik. Tapi aku serius. Aku juga bisa tidak tahan, dan ketika sampai pada saatnya, aku mau engkau mempersiapkan diri. Kecuali perkataanmu benar, dia bisa berubah.

Kegelisahan itu memang sirna, namun ada rasa tegang yang baru, dan beberapa hal yang tidak akan dapat kembali ke keadaan semula.
Warna hati pun berubah menjadi lebih gelap, lebih murung.
Mungkin dia bisa terus memaafkan, tapi ada beberapa hal yang dia jaga, dan tidak bisa kembali ke semula.

Maka seluruh tubuhku tidak jadi tertawa.
Disini aku menghela nafas, menimbang-nimbang.
Maka aku hanya diam, dan kamu melihatku, menerka-nerka apa yang ada di pikiranku.
Tapi maaf sayang, aku tidak bisa menerjemahkan apa yang tubuhku rasakan,
apa yang hatiku rasakan.

Itu salahku.
Aku selalu jadi setengah,
saat aku ingin jadi seutuhnya.
Aku selalu jadi sebentar,
saat aku ingin jadi selamanya.

-Unknown


Nb: aku mau kamu, dan pembaca, tolong jangan tanggapi tulisan ini. Otak masih gerah, dan tangan ini tidak mampu menuruti apa kata hati.

Comments

Popular Posts