Indonesia dan orang-orangnya
Halo semuanya! Apakabar? Maaf ya udah lama ga nge blog. Hari ini saya juga bukan mau bikin kata-kata mutiara, dan sebagainya, tapi lebih ke mau sharing pengalaman hehe. Yasudah, tanpa basa-basi lebih banyak, saya mulai ya?
Sekarang ini, saya berkulilah di Universitas Indonesia, Depok. Lumayan jauh dari rumah saya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Kalau pakai mobil, saya biasanya 1 jam - 1 set jam perjalanan, malah kalau jalan tol lagi sangat lancar, saya bisa menempuh perjalanan hanya dalam waktu setengah jam. Sayang, saya belum bisa menyetir mobil, dan tidak ada yang bisa mengantar jemput saya ke Depok, walaupun tidak jarang saya ikut teman saya alias nebeng. Namun tentu saja saya tidak bisa selalu nebeng, karena kadang saya ada keperluan sehingga harus pulang telat, dan sebaliknya. Capek sih, perjalanan dengan kereta itu selalu hampir 2 jam. Kecuali kalau saya berangkat jam set 6 pagi, saya bisa mencapai kampus hanya dengan waktu 1 jam. Yah sudahlah, bingung dari tadi ngomongin angka melulu.
Singkat cerita, kemarin saya harus pulang sendiri. Saya baru naik kereta jam 6 sore dengan kondisi yang kurang fit. Sesampainya di stasiun transit, saya memilih menunggu kereta lain, karena saya sangat pusing dan merasa tidak sanggup untuk berdiri terlalu lama. Di stasiun transit, ada satu orang berbadan besar bersuara keras berteriak-teriak. Kelakuannya agak (maaf) kampungan. Saya agak takut akan satu gerbong kereta dengan orang itu, dan benar saja, saya satu gerbong dengan orang itu dan dua temannya.
Setelah kereta mulai berjalan, 3 orang tersebut memakan kacang. Namun ada yang janggal, dan setelah saya perhatikan, mereka membuang kulit kacangnya ke lantai kereta. Mungkin banyak orang yang memperhatikan, namun karena penampilan ke 3 orang ini agak sangar dan acuh, jadi orang-orang hanya bisa melihat saja. Saya yang agak shock, mungkin tertangkap sedang memperhatikan mereka, sehingga si badan besar menyindir saya namun saya kurang dengar, namun dia menyebutkan si mbak yang pake masker, dan kebetulan di sekitar situ hanya saya yang memakai masker. Dia juga menyindir sebelah saya, yang saya dengar "si mbak yang pake kerudung liatin kita ya? Dia kira kita temen sma nya kali ya". Saya agak kesal, namun tidak ingin mencari masalah, jadi saya diam. Kondisi di gerbong itu tidak ada petugas keamanan, dan salah satu dari 3 orang itu menaikkan kakinya yang masih menggunakan sepatu ke atas kursi. Mereka juga bernyanyi-nyanyi dengan keras.
Akhirnya dari ujung mata saya yang sedang bosan, saya menangkap kalau mbak di sebelah saya mengambil foto ketiga laki-laki tersebut dan mempostingnya ke facebook dengan caption yang amat panjang. Isinya kurang lebih berisi ketidak sukaan kepada ketiga orang itu yang membuang sampah seenaknya. Saya agak bingung. Saya sering melihat post panjang mengenai suatu kejadian, tapi saya tidak pernah memikirkan posisi sang penulis post tersebut. Jujur, yang saya pikirkan, kok si mbak komplain ke status facebooknya? Memangnya tiga orang ini bisa baca status facebook mbaknya?
Di tengah perjalanan, salah satu dari ketiga orang tersebut memungut sampah mereka. Saya sedikit lega, dan agak merasa bersalah karena menghakimi mereka terlalu awal. Namun, mereka kemudian membuka kaca kereta dan melemparkan sampah mereka ke luar. Saya kembali tidak habis pikir. Saya berpikir untuk menegur mereka, tapi hati rasanya panas sekali melihat kelakuan yang seenaknya ini.
Akhirnya, mbak di samping saya turun dari kereta tanpa mengatakan apa-apa. Saya tidak habis pikir. Itu apa esensinya post di facebook begitu? Meningkatkan awareness agar orang-orang tidak buang sampah kah? Mencari like? Atau berharap ketiga orang itu membaca status facebooknya?
Akhirnya, saya hampir tiba di stasiun tujuan. Ketika saya berdiri, barang saya jatuh ke dekat mereka bertiga, dan salah satu dari mereka memberikannya kepada saya. Akhirnya nyali saya sedikit menyala. "Terimakasih ya mas. Ohiya, lain kali tolong buang sampah yang benar ya mas". Awalnya mereka bertiga bingung. "Ngomong apa tadi? Ga kedengeran". Saya mengulangi kalimat saya lagi. Untuk sepersekian detik, mereka agak tercengang. Tapi si badan besar kemudian kembali membalas saya dengan nada mengejek "Oh iya maap ya kak, eh dek. Wah pintar sekali ni si adek. Salam ya dek buat pak RTnya" dan beberapa perkataan yang kurang bisa saya dengar. Salah satu temannya memandang saya "emang tadi kena?" tanyanya dengan ekspresi menyindir. Saya hanya tersenyum dan menggeleng.
akhirnya saya sampai di tempat tujuan. Saya lega, lega sekali, tapi ada sedikit rasa takut dan rasa janggal. Saya mengerti, mungkin orang-orang di gerbong tersebut tidak menyinggung ketiga orang itu karena takut mencari masalah. Namun, diam saja, namun mengomel di sosial media juga.. Yah, tidak membantu apa-apa. Malah menurut saya agak tidak adil, sang objek dihakimi tanpa tahu dia sedang dihakimi. Saya tidak tahu, apakah sia-sia atau tidak saya menegur orang-orang tersebut, tapi yang jelas saya sudah mencoba. Tidak ada yang salah, malah dalam agama saya, kita harus mengingatkan sesama dalam kebaikan, dan apabila kita tidak melakukannya, berarti kita sama berdosanya juga. Budayakan menegur dengan kata-kata yang baik dan dapat dimengerti. Apabila tidak mau menegur maka yasudah diam lebih baik dari hal lain. Diam lebih baik daripada menyebarkan keburukan orang dan bukan mengingatkan orang tersebut, diam lebih baik daripada emosi.
The moral story of this post, is, instead of complaining about others, first we need to do this self introspection. Berkaca deh, kita kurang apa. Kalau kita bisa ngingetin baik-baik, kenapa ngga? Siapatau nasihat kita bisa nyentuh akal sehat & hati nurani mereka, yakan?
Sekarang ini, saya berkulilah di Universitas Indonesia, Depok. Lumayan jauh dari rumah saya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Kalau pakai mobil, saya biasanya 1 jam - 1 set jam perjalanan, malah kalau jalan tol lagi sangat lancar, saya bisa menempuh perjalanan hanya dalam waktu setengah jam. Sayang, saya belum bisa menyetir mobil, dan tidak ada yang bisa mengantar jemput saya ke Depok, walaupun tidak jarang saya ikut teman saya alias nebeng. Namun tentu saja saya tidak bisa selalu nebeng, karena kadang saya ada keperluan sehingga harus pulang telat, dan sebaliknya. Capek sih, perjalanan dengan kereta itu selalu hampir 2 jam. Kecuali kalau saya berangkat jam set 6 pagi, saya bisa mencapai kampus hanya dengan waktu 1 jam. Yah sudahlah, bingung dari tadi ngomongin angka melulu.
Singkat cerita, kemarin saya harus pulang sendiri. Saya baru naik kereta jam 6 sore dengan kondisi yang kurang fit. Sesampainya di stasiun transit, saya memilih menunggu kereta lain, karena saya sangat pusing dan merasa tidak sanggup untuk berdiri terlalu lama. Di stasiun transit, ada satu orang berbadan besar bersuara keras berteriak-teriak. Kelakuannya agak (maaf) kampungan. Saya agak takut akan satu gerbong kereta dengan orang itu, dan benar saja, saya satu gerbong dengan orang itu dan dua temannya.
Setelah kereta mulai berjalan, 3 orang tersebut memakan kacang. Namun ada yang janggal, dan setelah saya perhatikan, mereka membuang kulit kacangnya ke lantai kereta. Mungkin banyak orang yang memperhatikan, namun karena penampilan ke 3 orang ini agak sangar dan acuh, jadi orang-orang hanya bisa melihat saja. Saya yang agak shock, mungkin tertangkap sedang memperhatikan mereka, sehingga si badan besar menyindir saya namun saya kurang dengar, namun dia menyebutkan si mbak yang pake masker, dan kebetulan di sekitar situ hanya saya yang memakai masker. Dia juga menyindir sebelah saya, yang saya dengar "si mbak yang pake kerudung liatin kita ya? Dia kira kita temen sma nya kali ya". Saya agak kesal, namun tidak ingin mencari masalah, jadi saya diam. Kondisi di gerbong itu tidak ada petugas keamanan, dan salah satu dari 3 orang itu menaikkan kakinya yang masih menggunakan sepatu ke atas kursi. Mereka juga bernyanyi-nyanyi dengan keras.
Akhirnya dari ujung mata saya yang sedang bosan, saya menangkap kalau mbak di sebelah saya mengambil foto ketiga laki-laki tersebut dan mempostingnya ke facebook dengan caption yang amat panjang. Isinya kurang lebih berisi ketidak sukaan kepada ketiga orang itu yang membuang sampah seenaknya. Saya agak bingung. Saya sering melihat post panjang mengenai suatu kejadian, tapi saya tidak pernah memikirkan posisi sang penulis post tersebut. Jujur, yang saya pikirkan, kok si mbak komplain ke status facebooknya? Memangnya tiga orang ini bisa baca status facebook mbaknya?
Di tengah perjalanan, salah satu dari ketiga orang tersebut memungut sampah mereka. Saya sedikit lega, dan agak merasa bersalah karena menghakimi mereka terlalu awal. Namun, mereka kemudian membuka kaca kereta dan melemparkan sampah mereka ke luar. Saya kembali tidak habis pikir. Saya berpikir untuk menegur mereka, tapi hati rasanya panas sekali melihat kelakuan yang seenaknya ini.
Akhirnya, mbak di samping saya turun dari kereta tanpa mengatakan apa-apa. Saya tidak habis pikir. Itu apa esensinya post di facebook begitu? Meningkatkan awareness agar orang-orang tidak buang sampah kah? Mencari like? Atau berharap ketiga orang itu membaca status facebooknya?
Akhirnya, saya hampir tiba di stasiun tujuan. Ketika saya berdiri, barang saya jatuh ke dekat mereka bertiga, dan salah satu dari mereka memberikannya kepada saya. Akhirnya nyali saya sedikit menyala. "Terimakasih ya mas. Ohiya, lain kali tolong buang sampah yang benar ya mas". Awalnya mereka bertiga bingung. "Ngomong apa tadi? Ga kedengeran". Saya mengulangi kalimat saya lagi. Untuk sepersekian detik, mereka agak tercengang. Tapi si badan besar kemudian kembali membalas saya dengan nada mengejek "Oh iya maap ya kak, eh dek. Wah pintar sekali ni si adek. Salam ya dek buat pak RTnya" dan beberapa perkataan yang kurang bisa saya dengar. Salah satu temannya memandang saya "emang tadi kena?" tanyanya dengan ekspresi menyindir. Saya hanya tersenyum dan menggeleng.
akhirnya saya sampai di tempat tujuan. Saya lega, lega sekali, tapi ada sedikit rasa takut dan rasa janggal. Saya mengerti, mungkin orang-orang di gerbong tersebut tidak menyinggung ketiga orang itu karena takut mencari masalah. Namun, diam saja, namun mengomel di sosial media juga.. Yah, tidak membantu apa-apa. Malah menurut saya agak tidak adil, sang objek dihakimi tanpa tahu dia sedang dihakimi. Saya tidak tahu, apakah sia-sia atau tidak saya menegur orang-orang tersebut, tapi yang jelas saya sudah mencoba. Tidak ada yang salah, malah dalam agama saya, kita harus mengingatkan sesama dalam kebaikan, dan apabila kita tidak melakukannya, berarti kita sama berdosanya juga. Budayakan menegur dengan kata-kata yang baik dan dapat dimengerti. Apabila tidak mau menegur maka yasudah diam lebih baik dari hal lain. Diam lebih baik daripada menyebarkan keburukan orang dan bukan mengingatkan orang tersebut, diam lebih baik daripada emosi.
The moral story of this post, is, instead of complaining about others, first we need to do this self introspection. Berkaca deh, kita kurang apa. Kalau kita bisa ngingetin baik-baik, kenapa ngga? Siapatau nasihat kita bisa nyentuh akal sehat & hati nurani mereka, yakan?

mungkin dia biasa di kampung begitu din, semoga aja ke depannya kita semua dan Indonesia bisa jadi lebih baik. EAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
ReplyDeleteirsal! sejak kapan kamu nangkring di blog aku :') aamin btw
Delete