Cerita Tentang Aku dan Seni

*nowplaying
https://soundcloud.com/arash-ghomeishi/christmas-time-is-here-daniela-andrade
Source: Pinterest

Ini adalah cerita tentang aku, dan seni.

Sembilan belas tahun semenjak aku dilahirkan ke dunia ini, dan aku tidak pernah berhenti kagum. Layaknya seluruh umat manusia, aku juga mencintai keindahan. Bermula semenjak aku kecil, aku diasuh oleh ibuku yang dulunya adalah penari, sampai dia berhenti ketika hendak memasuki perguruan tinggi. Ibu selalu menyanyikanku lagu pengantar tidur, dan setelah itu, aku tidak berhenti jatuh cinta dan penasaran mengenai keindahan lainnya yang ada di dunia ini.

Jatuh cinta berkali-kali.
Apa itu mungkin?

Sampai saat ini, aku masih jatuh cinta terhadap seni. Aku selalu ingin jadi yang terbaik dalam mengeskspresikan keindahan itu.

Aku ingin pandai bernyanyi,
agar aku bisa menyanyikanmu lagu pengantar tidur yang akan kamu rindukan dikala jauh.

Aku ingin pandai menari,
agar bayanganku yang muncul di mimpimu dikala kau tidur.

Aku ingin pandai melukis,
agar aku bisa melukis wajahmu dikala rindu.

Aku ingin pandai dalam seni peran,
agar aku bisa menyampaikan pesan untukmu dikala aku tak mampu.

Aku ingin pandai memegang kamera,
agar aku dapat membagi keindahan itu denganmu.

Aku ingin pandai menuangkan kata-kata,
agar kamu tau, aku ada.

Keindahan itu yang membuai ku dan lupa bahwa hidup tidak seindah itu. Aku jatuh cinta berkali-kali, kepada kata-kata pujangga, sampai aku berharap bahwa aku lah perempuan yang dia tulis dalam puisinya itu. Aku jatuh cinta kepada laki-laki yang bermain gitar di kafe yang padat di malam minggu itu, aku harap air matanya jatuh karena dia membawakan lagu itu sambil membayangkanku. Aku jatuh cinta kepada aktor di layar lebar itu yang sangat mencintai lawan mainnya.

Tapi
bukan
aku
yang
mereka
maksud.

Disini aku tertawa. Ternyata bukan, aku bukan jatuh cinta kepada mereka. Aku jatuh cinta kepada seni yang mereka bawakan. Aku jatuh cinta kepada cara mereka menuangkan emosi itu. Disini aku bingung, jadi aku jatuh cinta kepada siapa?

Pada akhirnya, aku akan jatuh cinta dengan cara yang sangat sederhana. Bukan penyair, bukan pemusik, apalagi pemain drama. Akhirnya, aku sadar bahwa manusia tidak semua sama. Lalu aku akan bingung mengartikannya.

Apa dia mencintaiku, atau aku jatuh cinta sendirian?

Lalu aku terus terbayang hari ketika dia akan pergi. Aku takut. Aku iri dengan kenyataan bahwa dia akan bisa pergi dalam damai, sedangkan hidupku akan runtuh sesaat.

Dan, aku akan kembali menikmati seni seperti semula. Naif dan tolol. Sedangkan si bodoh yang meninggalkan aku itu masih berani sesekali muncul di hidupku,

Di halaman buku yang sedang ku baca,
di tengah pementasan sebuah drama musikal,
di dalam lagu yang pernah menjadi lagu kesukaanku.

Tapi suatu hari, semuanya akan berhenti. Semuanya akan kembali menjadi baik-baik saja.

Comments

Popular Posts