Karena kamu harus tau alasan untuk pulang

Source: Pinterest
Pulang.

Malam itu aku berbincang dengan temanku diatas motor miliknya. "Din, lo harus coba merantau deh, biar lo tau kenapa lo harus pulang". Diam. Aku terenyuh. Beberapa minggu, aku tidak kembali ke rumah. Atau, walaupun dirumah, pikiranku tidak disana. Pikiranku dikejar tugas, kepanitiaan, dan hal-hal remeh tapi besar dalam hidupku.

Pulang.

Sudah lama aku tidak menatap sepasang mata mereka dalam-dalam. Sulit rasanya sekadar mengatakan "mah, pah, teteh kangen". Perasaan itu ada di pagi hari, saat alarm sialan itu membangunkanku untuk solat subuh, dan bukan suara pintu terbuka yang berisik dibuka oleh ibuku. Walaupun berisik, suara itu lebih ramah dari suara alarm-ku setiap pagi. Perasaan itu juga ada saat aku lelah, kembali ke kamar, dan ternyata aku lupa membeli makan malam. Sayangnya, aku sudah sangat lelah untuk beranjak, dan akhirnya aku ketiduran sampai pagi.

Pulang.

"Pah boleh jemput disini ga?" "Oke teh". Umurku hampir menyentuh kepala dua, tapi mereka masih memanjakanku, masih ikhlas mengakomodasi diriku, walaupun aku hanya malas, bukan tak mampu. Ingin rasanya aku memukuli diriku sendiri karena masih berani merepotkan mereka. Ingin rasanya aku menghukum diriku karena membiarkan mereka terbangun hingga larut hanya untuk menungguku pulang.

Pulang.

"Iya gue sebel banget sama lo din, lo bilang kangen orang tua padahal tiap minggu masih bisa ketemu. Nah gue". Aku tidak bisa membayangkan jauh dari mereka. Maafkan aku kawan, berkeluh kesah disaat penderitaanmu lebih berat daripada aku. "Lo kalo sabtu minggu ngapain deh?" tanyaku. "Di kosan" "Ga jalan gitu?" "Ngga. Kecuali awal bulan kalau mau belanja". Tidak pernah sedikitpun aku membayangkan sepinya hidupku, terutaman karena jauh dari kedua orangtuaku. Sama sekali tidak. Mereka yang menghidupiku. Air mataku mudah jatuh hanya untuk mereka. Tapi, mengapa aku tidak kuasa sekadar mengatakan "kangen" disaat aku bersama mereka?

Pulang.

"Dina, lo harus coba merantau. Supaya lo tau rasanya pulang". Aku belum tau rasanya. "Makanya, kalo gue di kampung gue jarang main, lebih sering dirumah". Di rumah? Satu rumah dengan orangtuaku pun aku masih lebih sering keluar rumah menghabiskan waktu dengan teman-temanku. Tulisan ini hiperbola. Tidak. Tidak hiperbola. Aku memang sesayang itu pada orangtuaku, tapi aku belum menghargai mereka sebesar itu.

Pulang.

Tuhan, kalau Kau izinkan, temani aku dalam perantauanku. Bukan, bukan karena aku ingin jauh dari mereka, sama sekali tidak. Ini hanya agar aku lebih dewasa Tuhan, lebih mandiri, tidak merepotkan mereka. Ini agar.. Agar aku tahu Tuhan, siapa yang aku tuju disaat aku pulang.


Beribu terimakasih tidak akan cukup untuk kalian. Aku tidak pernah berhenti berdoa untuk kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan kalian.

Comments

Popular Posts