Bencana Kita dan Karunia Orang Lain
Sepatuku rusak. Sol-nya lepas. Sial. Padahal lumayan, dikasih, dan aku memang jarang dibelikan sepatu. Tapi apa boleh buat, aku simpan saja sol dan alasnya di rak sepatu paling belakang. Berharap mungkin saja orangtuaku iba dan menawarkan untuk membeli sepatu baru. He he.
Sampai tadi pagi, suara tukang sol sepatu terdengar disela-sela perbincangan keluarga di Sabtu pagi. Lantas, ibuku menyuruhku memanggil tukang itu dan membetulkan sepatuku yang sol-nya copot waktu itu. Akhirnya, ku ambil lah sepatu rusak itu. Terlihat si tukang memarkirkan sepedanya di tempat teduh, dan ayaku yang menawar biaya perbaikan sepatu itu.
Tiga puluh ribu.
Lebih murah dari harga secangkir kopi di kedai ternama, yang habis dalam beberapa teguk. Rasanya tidak pantas kalau masih aku tawar, padahal untuk membeli kopi yang harganya lima puluh ribu saja tidak pernah aku tawar. Lalu aku tinggalkan sepatu rusak itu hingga beberapa menit, si tukang sudah kembali ada di depan pintu rumah, mengembalikan sepatuku sembari meminta tolong diisikan air mineral di botol minumnya yang kosong itu.
Lalu, aku membayar tiga puluh ribu, plus dua botol minuman terisi penuh.
Ini cerita sederhana, tentang,
kadang,
apa yang kita anggap musibah, bisa jadi berkah untuk orang lain.
Bisa jadi kita kecewa karena kita berjuang keras untuk mendapatkan sesuatu, tetapi malah orang lain yang mendapatkannya.
Pernahkah kita berpikir, mungkin Tuhan berpendapat kita masih bisa hidup damai tanpa hal itu, sedangkan orang lain yang mendapatkannya mungkin akan lebih menderita apabila kehilangan hal itu?
Musibah adalah pengingat bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai manusia yang kuat.
With love,
Dina
-di malam minggu yang sepi, yang tidak selalu berarti sunyi

Comments
Post a Comment