Satu per enam
Dalam sebuah lakon, apabila hidupmu kau ibaratkan sebuah lingkaran, maka kamu pernah membagi seperenamnya untuk aku. Aku tau kamu tak akan pernah sadar seberapa bahagianya aku ketika kamu percayakan bagian itu, walau aku selalu berharap suatu hari kamu akan tahu.
Sejujurnya, kamu sangat mampu menghidupi seluruh bagian yang kamu buat. Karena itu, aku tahu diri dan aku berusaha. Aku harap kamu tidak menyesal membagi seperenam bagianmu itu untuk aku. Tapi semesta mengguruiku, ia berkata, aku tidak boleh menyentuh bagian hidupmu lainnya. Maka, aku mencoba untuk selalu sadar agar tidak berharap macam-macam.
Lalu, aku pikir aku sabar.
Aku tau waktu yang kita hidupi bersama, bagimu layaknya bom waktu. Kamu selalu tergesa-gesa untuk pergi ke bagian hidupmu yang lainnya. Lalu aku melepas kamu padahal rasanya masih ingin bersama lebih lama. Sebagian dariku takut kamu harus bersandiwara apabila aku menuntutmu untuk tinggal, jadi, aku belajar untuk ikhlas.
Dari jauh, aku lihat kamu tergelak, matamu berbinar-binar, kamu bisa lupa waktu dengan bagian hidupmu lainnya.
Di satu sisi aku ikut berbahagia.
Di satu sisi, rasanya perih.
Perih saat aku tau kamu telah tertawa puas namun harus lenyap ketika kita bertemu. Perih ketika sosokmu yang konyol berubah menjadi dingin dan diam tiap waktu yang kamu habiskan denganku. Perih ketika kamu yang begitu periang harus berakhir dalam pertikaian dengan bagian kecilmu yang satu ini. Lalu, muncul pertanyaan, mengapa? Ada apa?
Aku tau aku tidak akan pernah sempat mengucapkannya,
tapi aku mau menyentuh bagian hidupmu lainnya. Aku ingin matamu berbinar ketika kita berdialog, tawamu lepas ketika kita bersua, dan tak perlu ada hening dalam waktu yang kita lalui bersama.
Tapi mungkin aku serakah.
Sampai kapanpun, aku hanya seperenam dari bagian-bagian yang kamu buat. Kamu menyekat bagian-bagianmu dengan sangat rapi hingga aku tak mungkin menyentuh bagian hidupmu yang lainnya. Aku tak akan pernah mengenal bagian hidupmu lainnya sebagaimana mereka tak akan pernah mengenal aku. Mirisnya, segigih apapun usahaku untuk menyekat bagian-bagian hidupku, membatasi keberadaanmu dalam hidupku, kamu akan selalu ada di setiap bagian, entah disudut atau dimana, tapi kamu selalu ada. Kamu selalu punya jawaban yang tepat untuk semua kesulitanku, walau belum tentu benar. Kamu selalu punya cara terbaik untuk mengatasi semua kekuranganku. Ah, bodohnya aku yang tidak akan pernah menjadi cekatan sepertimu. Mungkin aku memang tidak pernah cukup mendukungmu sebaik kamu mendukung aku.
Aku pikir hidupmu memang lebih berwarna ketika kamu tidak perlu membagi seperenam itu denganku,
maka
aku kembalikan seperenam bagian itu
dan aku harap kamu kembali utuh.
dan aku harap kamu kembali utuh.
Terimakasih karena pernah membagi hidupmu dengan manusia serakah ini.
With Love, D
Source: pinterest
Source: pinterest


Haaaa suka banget yang ini! :")
ReplyDeleteHua gercepp!! Thanku luv
Delete