Kura-kura
Aku memelihara seekor kura-kura. Ia lamban dan pemalu. Kadang ketika terkejut, ia langsung masuk ke dalam rumah mungilnya. Rumah sederhana yang cukup membuatnya nyaman; rumah kecil yang menyimpan banyak rahasia.
Kura-kura ku sehebat kura-kura yang kalian dengar di dalam dongeng. Di dalam cerita yang dilantunkan seorang ibu untuk anaknya sebagai pengantar tidur. Pernah dengar kisah tentang si kura-kura dan kelinci? Tentu, kura-kuraku sering menjadi pemenangnya. Walaupun awalnya ia tidak percaya diri, pada akhirnya ia selalu berhasil sampai di garis finish, sambil terus berjalan, seolah-olah hal tersebut bukan suatu hal yang besar.
Kura-kuraku pemalu. Kali pertama aku menengok rumahnya, aku menemukan berbagai mahakarya yang tidak pernah sanggup ia tunjukkan kepada dunia.
Mengapa?
Suatu hari aku bertanya padanya
Aku hanya suka melakukan ini, tapi aku tidak pandai melakukannya
ujarnya.
Ia tidak pernah berhenti berjalan, disaat hewan yang lebih cepat darinya berhenti, ia masih berjalan. Dalam lagkah kecilnya, aku menangkap doa, semangat, serta harapan agar kelak ia sampai pada tujuannya. Ia tidak pernah berhenti untuk sekadar pamer. Ia tidak pernah berhenti untuk mengumumkan pada dunia bahwa ia pernah memenangkan perlombaan lari itu. Ia terus berjalan, ditengah sorak sorai massa yang mengelu-elukan namanya, hingga massa tersebut kembali sibuk dalam kesibukan mereka sendiri, ia tidak pernah berhenti berjalan.
Suatu ketika, ketika aku dirundung pilu dan putus asa, ia mengetuk pintu kamarku dengan sopan.
Aku jadi harus menghentikan tangisanku sejenak.
Aku tidak tahu kamu menyimpan semua ini, Dina.
Ini bukan apa-apa
Apa yang terjadi? Kenapa kamu bersedih?
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Itu sebabnya aku bersedih.
Lalu ia duduk disebelahku, mengistirahatkan kakinya di dalam rumahnya, dengan kepalanya yang menatapku peduli.
Kamu tau, kamu bisa melakukan apa saja. Aku tau. Mengapa kamu bersedih sedangkan Tuhan memberimu kenikmatan, memberimu kemampuan tetapi tidak berani kamu tunjukkan pada dunia? Kamu berjalan lebih cepat dariku, Dina. Kalau kamu berjalan terus tanpa menyerah, kamu akan sampai di garis finish lebih cepat dari aku. Lalu ketika kamu sampai, kamu harus tetap berjalan. Karena hidup tidak berhenti setelah kamu sampai di garis tersebut. Entah setelah sebuah pencapaian, atau setelah duka terdalam, selama kamu masih bisa bernapas, kamu harus tetap berjalan. Ketika akan tiba saatnya kamu berhenti bernapas, disitu waktumu untuk berhenti. Aku harap, ketika waktunya telah tiba, kamu telah menghidupi hidupmu dengan sebaik-baiknya. Aku harap kamu tidak pernah berhenti berjalan. Entah itu langkah besar atau langkah kecil, kamu akan sampai ke tujuanmu.
Lalu aku tertegun. Menatap ke sekeliling. Kamarku kosong. Aku tidak pernah punya kura-kura lagi setelah bertahun-tahun lamanya, waktu SMP, ketika kura-kura ku mati di Bandung. Tapi ternyata ia tidak pernah pergi. Ia tinggal di suatu tempat dalam diri ini, mendorong serta menginspirasiku untuk terus berjalan.
Dan aku mau terus berjalan. Aku mau mengambil langkah kecil dikala aku lelah dan langkah lebar ketika aku dibakar api semangat. Tapi tidak, aku tidak pernah mau berhenti. Tidak sedetik pun, tidak sampai kapan pun.
Sampai memang waktu ku untuk berhenti, aku mau menghidupi hidupku dengan sebaik-baiknya.
Source: pinterest
Bintaro, 19 Juli 2018
With love, D


anjiirrr ini tulisan bagus banget beneran dahh, semoga kita bisa bertemu dikemudian hari :)
ReplyDelete*Dan aku mau terus berjalan. Aku mau mengambil langkah kecil dikala aku lelah dan langkah lebar ketika aku dibakar api semangat.*
YOU JUST MADE MY DAY <3
DeleteAamiin. Wish u all the happiness you deserve anon!