Rasanya Menginjak 22 Tahun
Here we go again.. Menunggu tahun baru 2020 sambil menuangkan isi pikiran di wadah kesayanganku. Sekarang, kalau kau ada waktu, temani aku melihat kembali apa yang terjadi di 2019 ya.
2019 adalah tahun yang penuh tantangan. Tahun dimana aku dituntut dewasa. Tahun dimana aku harus belajar untuk menurunkan ego, dan yang terpenting, tahun untuk menerima kenyataan. Menjadi seorang anak perempuan pertama, dari kedua orangtua dengan suku yang berbeda, yang selamanya akan terus belajar menjadi orang tua.
Anak pertama. Cucu pertama dari keluarga besar ibuku, dimana aku sangat dekat dan lekat dengan mereka. Anugerah, katanya. Sosok yang ditunggu-tunggu. Si kecil yang tiap gerak geriknya diperhatikan orang sekitarnya, yang segala tingkahnya dibanggakan oleh sekitarnya, hingga muncul si kecil-kecil lainnya, yang buat hidupnya semakin berwarna.
Rasanya menjadi anak pertama dan cucu pertama.
Entah seperti sudah terdoktrin di kepala bahwa toleransiku harus tinggi. Mereka lebih kecil dariku, peranku disini sebagai kakak, harus menyayangi mereka, mendahului mereka. Apa aku keberatan? Tentu tidak. Hanya entah sejak kapan aku lupa bahwa aku adalah aku. Bahwa aku berhak punya pilihan. Bahwa aku berhak jadi diri sendiri.
Terkadang aku pikir tidak ada yang lebih menyebalkan menjadi seorang kakak yang gagal.
Gagal masuk SMP favorit. Gagal masuk SMA favorit. Gagal masuk perguruan tinggi impian keluarga. Pada tiap tahapannya, tentu aku sudah hancur berkeping-keping, karena terlalu familiar dengan kegagalan tersebut. Tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya. Selamanya akan menjadi lelucon bahwa si sulung tidak mampu memenuhi harapan keluarganya. Lalu dihantui kegagalan sampai entah kapan.
Tapi di umur 22 tahun, aku ingin berhenti.
Di umur 22 tahun aku merasa akhirnya dapat merasakan jemariku, dapat merasakan bebanku yang berpijak di atas tanah. Awal tahun, aku mengarungi lika-liku tahun akhir perguruan tinggi; skripsi. Pilihan yang aku rasa sebagai pilihan pertamaku yang memang benar-benar aku inginkan. Dimulai dari pilihan topik yang melenceng jauh dari pilihan teman-teman sepermainanku. Pilihan yang benar-benar dimulai dari diri sendiri, karena orang tua pun tidak tau apa yang aku hadapi, jadi untuk pertama kalinya aku harus belajar memilih, dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Skripsi sebenarnya tidak sulit, hanya saja perjalanannya tidak familiar. Pelajarannya menempa diri mahasiswa agar siap menjadi insan-insan yang berguna bagi bangsa, negara, keluarga, maupun diri sendiri. Entah berapa tangisan yang tumpah hanya karena perasaan lelah, putus asa, dan segala hal negatif lainnya. Saat itu, tidak ada satupun yang bisa jadi pegangan. Saat itu aku sadar, aku sendirian. Aku lahir di bumi sendirian, menghadapi kesulitan sendirian, dan akan kembali diistirahatkan ke bumi sendirian. Lalu aku sadar, karena itu aku harus kuat. Karena itu aku harus mencintai diriku selayaknya. Pada akhirnya, kita akan selalu sendiri.
Lalu hal itu terlewati. Skripsiku lulus. Rasanya seperti mimpi. Namun tidak selesai disitu. Aku butuh membuat pilihan lagi. Kali ini orangtuaku benar-benar menyerahkan pilihan padaku. Akhirnya. Rasanya tidak familiar, rasanya menakutkan. Pada satu titik aku benar-benar berharap orangtuaku memaksakan suatu pilihan untukku agar aku tidak perlu takut untuk bertanggung jawab atas sesuatu yang aku pilih, namun pada akhirnya muncul keberanian hingga aku berani memilih. Muncul keberanian untuk bertanggung jawab atas hal yang kupilih.
Selanjutnya tentang penerimaan. Bahwa hidup terus berjalan. Bahwa yang kemarin akan tetap jadi yang kemarin. Hanya masa depan yang masih dapat diubah, maka aku belajar berjalan. Belajar menikmati setiap langkah. Belajar bersabar. Belajar beradaptasi dengan ketidakfamiliaranku akan banyak hal. Lalu berharap akhirnya berkembang.
Di penghujung tahun 2019 ini, aku merasa jauh berkembang dari diriku di awal tahun. Aku bersyukur akan apa yang telah aku lewati, pahit manis, semua menjadi pelajaran terbaik. Lalu, selamat datang 2020. Semoga diriku bisa lebih dewasa, semoga diriku belajar mengenal lebih banyak warna, semoga aku lebih terbuka untuk hal-hal baik yang baru dan lebih tertutup untuk hal-hal buruk yang ku temui di tahun-tahun sebelumnya. Semoga kalian juga menemukan hal yang sama. Terimakasih sudah sampai disini, menemani kata ku hingga saat ini.
With love,
Dina
2019 adalah tahun yang penuh tantangan. Tahun dimana aku dituntut dewasa. Tahun dimana aku harus belajar untuk menurunkan ego, dan yang terpenting, tahun untuk menerima kenyataan. Menjadi seorang anak perempuan pertama, dari kedua orangtua dengan suku yang berbeda, yang selamanya akan terus belajar menjadi orang tua.
Anak pertama. Cucu pertama dari keluarga besar ibuku, dimana aku sangat dekat dan lekat dengan mereka. Anugerah, katanya. Sosok yang ditunggu-tunggu. Si kecil yang tiap gerak geriknya diperhatikan orang sekitarnya, yang segala tingkahnya dibanggakan oleh sekitarnya, hingga muncul si kecil-kecil lainnya, yang buat hidupnya semakin berwarna.
Rasanya menjadi anak pertama dan cucu pertama.
Entah seperti sudah terdoktrin di kepala bahwa toleransiku harus tinggi. Mereka lebih kecil dariku, peranku disini sebagai kakak, harus menyayangi mereka, mendahului mereka. Apa aku keberatan? Tentu tidak. Hanya entah sejak kapan aku lupa bahwa aku adalah aku. Bahwa aku berhak punya pilihan. Bahwa aku berhak jadi diri sendiri.
Terkadang aku pikir tidak ada yang lebih menyebalkan menjadi seorang kakak yang gagal.
Gagal masuk SMP favorit. Gagal masuk SMA favorit. Gagal masuk perguruan tinggi impian keluarga. Pada tiap tahapannya, tentu aku sudah hancur berkeping-keping, karena terlalu familiar dengan kegagalan tersebut. Tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya. Selamanya akan menjadi lelucon bahwa si sulung tidak mampu memenuhi harapan keluarganya. Lalu dihantui kegagalan sampai entah kapan.
Tapi di umur 22 tahun, aku ingin berhenti.
Di umur 22 tahun aku merasa akhirnya dapat merasakan jemariku, dapat merasakan bebanku yang berpijak di atas tanah. Awal tahun, aku mengarungi lika-liku tahun akhir perguruan tinggi; skripsi. Pilihan yang aku rasa sebagai pilihan pertamaku yang memang benar-benar aku inginkan. Dimulai dari pilihan topik yang melenceng jauh dari pilihan teman-teman sepermainanku. Pilihan yang benar-benar dimulai dari diri sendiri, karena orang tua pun tidak tau apa yang aku hadapi, jadi untuk pertama kalinya aku harus belajar memilih, dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Skripsi sebenarnya tidak sulit, hanya saja perjalanannya tidak familiar. Pelajarannya menempa diri mahasiswa agar siap menjadi insan-insan yang berguna bagi bangsa, negara, keluarga, maupun diri sendiri. Entah berapa tangisan yang tumpah hanya karena perasaan lelah, putus asa, dan segala hal negatif lainnya. Saat itu, tidak ada satupun yang bisa jadi pegangan. Saat itu aku sadar, aku sendirian. Aku lahir di bumi sendirian, menghadapi kesulitan sendirian, dan akan kembali diistirahatkan ke bumi sendirian. Lalu aku sadar, karena itu aku harus kuat. Karena itu aku harus mencintai diriku selayaknya. Pada akhirnya, kita akan selalu sendiri.
Lalu hal itu terlewati. Skripsiku lulus. Rasanya seperti mimpi. Namun tidak selesai disitu. Aku butuh membuat pilihan lagi. Kali ini orangtuaku benar-benar menyerahkan pilihan padaku. Akhirnya. Rasanya tidak familiar, rasanya menakutkan. Pada satu titik aku benar-benar berharap orangtuaku memaksakan suatu pilihan untukku agar aku tidak perlu takut untuk bertanggung jawab atas sesuatu yang aku pilih, namun pada akhirnya muncul keberanian hingga aku berani memilih. Muncul keberanian untuk bertanggung jawab atas hal yang kupilih.
Selanjutnya tentang penerimaan. Bahwa hidup terus berjalan. Bahwa yang kemarin akan tetap jadi yang kemarin. Hanya masa depan yang masih dapat diubah, maka aku belajar berjalan. Belajar menikmati setiap langkah. Belajar bersabar. Belajar beradaptasi dengan ketidakfamiliaranku akan banyak hal. Lalu berharap akhirnya berkembang.
Di penghujung tahun 2019 ini, aku merasa jauh berkembang dari diriku di awal tahun. Aku bersyukur akan apa yang telah aku lewati, pahit manis, semua menjadi pelajaran terbaik. Lalu, selamat datang 2020. Semoga diriku bisa lebih dewasa, semoga diriku belajar mengenal lebih banyak warna, semoga aku lebih terbuka untuk hal-hal baik yang baru dan lebih tertutup untuk hal-hal buruk yang ku temui di tahun-tahun sebelumnya. Semoga kalian juga menemukan hal yang sama. Terimakasih sudah sampai disini, menemani kata ku hingga saat ini.
With love,
Dina

Comments
Post a Comment